Olahraga lari memang terlihat sederhana, namun risiko cedera bisa meningkat drastis jika perlengkapan yang digunakan tidak sesuai, itulah sebabnya seorang Ahli Medis Blitar baru-baru ini memberikan edukasi penting mengenai pemilihan alas kaki. Banyak pelari pemula yang hanya tergiur oleh model atau warna sepatu yang sedang tren, tanpa mempertimbangkan anatomi kaki mereka sendiri. Padahal, sepatu lari berfungsi sebagai peredam benturan utama yang melindungi sendi lutut, pergelangan kaki, hingga tulang punggung dari tekanan yang berulang-ulang saat kaki menghantam permukaan jalan yang keras.
Menurut penjelasan Ahli Medis Blitar, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali tipe lengkungan telapak kaki atau arch. Ada tiga kategori utama: flat foot (rata), normal arch, dan high arch. Pemilik kaki rata cenderung mengalami pronasi berlebih (kaki miring ke dalam), sehingga memerlukan sepatu tipe stability atau motion control untuk menjaga posisi kaki tetap sejajar. Sementara itu, mereka dengan lengkungan tinggi membutuhkan sepatu dengan bantalan (cushioning) yang lebih empuk untuk membantu menyerap guncangan secara maksimal agar tidak membebani tulang kering.
Dalam panduan yang dibagikan, Ahli Medis Blitar juga menekankan pentingnya memberikan ruang sisa di bagian depan sepatu, sekitar selebar ibu jari tangan. Saat berlari, kaki manusia cenderung memuai atau bertambah besar karena aliran darah yang meningkat dan beban tubuh. Jika sepatu terlalu pas atau sempit, kuku kaki bisa mengalami trauma (kuku hitam) dan jari kaki akan terasa kebas. Beliau juga menyarankan agar warga membeli sepatu pada sore atau malam hari, karena pada waktu tersebut ukuran kaki berada di titik maksimalnya setelah beraktivitas seharian.
Selain ukuran, Ahli Medis Blitar mengingatkan agar pelari memperhatikan masa pakai sepatu mereka. Secara medis, bantalan sepatu lari memiliki batas efektivitas, biasanya setelah menempuh jarak 500 hingga 800 kilometer. Jika sol bagian luar sudah mulai aus atau busa tengah terasa keras, maka perlindungan terhadap sendi sudah tidak optimal lagi. Mengabaikan kondisi sepatu yang sudah “lelah” adalah penyebab utama cedera kronis seperti plantar fasciitis atau nyeri tumit yang sangat mengganggu mobilitas harian warga di wilayah Blitar dan sekitarnya.
