Reduksi atau reposisi adalah langkah krusial dalam penanganan patah tulang, bertujuan mengembalikan fragmen tulang yang patah ke posisi anatomis yang benar. Langkah ini sangat penting agar tulang dapat menyatu dengan baik dan fungsi anggota tubuh kembali normal. Tanpa reduksi yang tepat, penyembuhan mungkin terganggu atau bahkan menyebabkan deformitas permanen.
Ada dua metode utama dalam melakukan reduksi. Pertama adalah reduksi tertutup, di mana dokter memanipulasi fragmen tulang secara manual dari luar tubuh tanpa membuat sayatan. Metode ini umumnya dilakukan di bawah pengaruh bius lokal atau sedasi untuk mengurangi nyeri dan membuat pasien rileks.
Reduksi tertutup sering menjadi pilihan untuk patah tulang yang tidak terlalu kompleks atau tidak mengalami pergeseran parah. Dokter akan menggunakan teknik khusus untuk menggeser fragmen tulang kembali ke tempatnya. Keuntungannya adalah minimnya risiko infeksi dan waktu pemulihan yang lebih cepat.
Namun, tidak semua patah tulang bisa ditangani dengan reduksi tertutup. Untuk kasus yang lebih kompleks, seperti patah tulang yang sangat bergeser, patah tulang terbuka, atau patah tulang yang melibatkan sendi, diperlukan reduksi terbuka. Metode ini melibatkan operasi.
Dalam reduksi terbuka, dokter akan membuat sayatan pada kulit untuk secara langsung memvisualisasikan fragmen tulang yang patah. Mereka kemudian akan menggunakan alat bedah khusus untuk mengembalikan fragmen-fragmen tersebut ke posisi yang benar.
Setelah fragmen tulang direposisi, seringkali diperlukan fiksasi internal untuk menjaga agar tulang tetap pada posisinya selama proses penyembuhan. Ini bisa berupa pemasangan plat, sekrup, pin, atau batang logam di dalam tulang. Fiksasi ini membantu tulang menyatu dengan stabil.
Keputusan antara reduksi tertutup dan terbuka sangat bergantung pada jenis patah tulang, lokasi, tingkat keparahan, dan kondisi umum pasien. Dokter akan mempertimbangkan semua faktor ini berdasarkan hasil pencitraan diagnostik dan pemeriksaan fisik.
Meskipun reduksi adalah langkah yang esensial, prosedur ini harus selalu dilakukan oleh tenaga medis profesional yang terlatih, seperti ahli bedah ortopedi. Penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk penyembuhan yang buruk atau kerusakan lebih lanjut pada jaringan sekitar.
