Gaya hidup mewah yang berlebihan kini menjadi fenomena yang semakin nyata di tengah masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan ekonomi. Banyak orang terjebak dalam pusaran keinginan untuk selalu tampil glamor di hadapan publik demi mendapatkan pengakuan luas. Mereka sering kali merasa bahwa kemewahan material adalah indikator utama dalam menaikkan posisi status sosial.
Perilaku konsumtif ini sering kali mengarah pada tindakan superflu, yaitu membeli barang-barang mahal tanpa mempertimbangkan fungsi kegunaannya. Seseorang mungkin membeli jam tangan mewah seharga ratusan juta rupiah hanya untuk dipamerkan, meski fungsinya tidak dimaksimalkan. Dorongan psikologis untuk dihormati secara instan sering kali menjadi alasan utama pengejaran status sosial.
Media sosial memainkan peran yang sangat besar dalam memperparah tren pamer kekayaan atau yang sering disebut sebagai flexing. Masyarakat cenderung membandingkan kehidupan pribadinya dengan standar hidup mewah yang ditampilkan oleh para pemuka opini di internet. Kompetisi yang tidak sehat ini memaksa individu untuk berutang demi mempertahankan harga diri dan status sosial.
status sosial dari gaya hidup mewah yang dipaksakan ini sangat berbahaya bagi stabilitas keuangan jangka panjang sebuah rumah tangga. Banyak orang yang rela mengabaikan tabungan masa depan atau dana darurat hanya untuk memenuhi gengsi yang bersifat sementara. Padahal, kekayaan sejati tidak seharusnya hanya diukur dari penampilan luar demi sekadar mengejar.
Pendidikan mengenai literasi keuangan harus diperkuat agar masyarakat mampu membedakan antara kebutuhan pokok dan keinginan yang bersifat impulsif. Membeli barang sesuai dengan fungsi dan kemampuan finansial jauh lebih bijaksana daripada mengikuti tren yang terus berubah. Kedewasaan dalam mengelola uang akan menghindarkan kita dari jebakan ekspektasi publik terkait status sosial.
Fenomena ini juga menciptakan kesenjangan psikologis yang dalam antara kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi yang berbeda-beda di Indonesia. Rasa tidak puas terhadap diri sendiri sering muncul ketika seseorang merasa tertinggal dalam standar kemewahan yang diciptakan lingkungan. Padahal, kebahagiaan yang hakiki berasal dari ketenangan pikiran, bukan dari validasi eksternal mengenai status sosial.
Pemerintah dan tokoh masyarakat perlu mengampanyekan gaya hidup sederhana namun berkualitas sebagai bentuk nilai budaya yang baru. Menghargai kerja keras dan produktivitas jauh lebih mulia daripada sekadar memamerkan barang-barang mewah hasil utang konsumtif yang membebani. Mengubah pola pikir masyarakat adalah langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat tanpa beban status sosial.
