Vitamin D sering dijuluki sebagai “vitamin sinar matahari” karena paparan ultraviolet B (UVB) adalah sumber utama produksinya di kulit. Namun, di tengah perubahan gaya hidup modern yang semakin banyak dilakukan di dalam ruangan dan kesadaran akan risiko kanker kulit, ketergantungan penuh pada sinar matahari menjadi tidak lagi ideal atau memadai. Oleh karena itu, memastikan asupan yang cukup melalui Suplemen dan Makanan menjadi sangat penting untuk menjaga kadar Vitamin D tetap optimal dalam tubuh. Pemenuhan kebutuhan Vitamin D melalui Suplemen dan Makanan bukan hanya krusial untuk kesehatan tulang, tetapi juga memainkan peran vital dalam menjaga fungsi kekebalan tubuh dan mencegah berbagai penyakit kronis.
Peran utama Vitamin D adalah membantu tubuh menyerap kalsium, menjadikannya kunci untuk pencegahan osteoporosis dan rakitis. Namun, penelitian terbaru telah memperluas pemahaman kita tentang fungsi vitamin ini. Vitamin D kini diakui sebagai hormon yang memengaruhi ekspresi gen yang terkait dengan fungsi sistem imun dan peradangan. Kekurangan Vitamin D telah dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi pernapasan akut dan beberapa jenis kanker. Sebuah studi longitudinal yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Kesehatan Nasional pada 15 Januari 2025 menunjukkan bahwa individu dengan kadar serum Vitamin D di bawah ambang batas 30 ng/mL memiliki waktu pemulihan infeksi yang rata-rata 3 hari lebih lama dibandingkan dengan subjek yang kadarnya optimal.
Meskipun paparan matahari adalah cara alami, efisiensinya dipengaruhi oleh banyak faktor seperti letak geografis, waktu (di Indonesia, paparan terbaik adalah antara pukul 09.00 hingga 10.00 WIB), dan penggunaan tabir surya. Oleh karena itu, pengandalan pada Suplemen dan Makanan terfortifikasi menjadi strategi yang lebih konsisten. Sumber makanan alami Vitamin D cukup terbatas, umumnya ditemukan dalam ikan berlemak tinggi seperti salmon, makarel, dan sarden. Jamur yang terpapar sinar UV juga merupakan sumber yang baik.
Untuk mengatasi kesenjangan asupan, penggunaan suplemen seringkali disarankan, terutama bagi mereka yang memiliki risiko defisiensi tinggi (lansia, orang dengan kulit gelap, atau mereka yang jarang terpapar matahari). Dokter Spesialis Gizi Klinis Dr. Rina Kusuma pada hari Kamis, 20 Juni 2024, secara rutin merekomendasikan dosis harian Vitamin D3 800 IU hingga 2.000 IU untuk pemeliharaan pada orang dewasa yang sehat. Sebelum memulai suplementasi dosis tinggi, individu dianjurkan melakukan tes darah untuk Suplemen dan Makanan dan mendapatkan rekomendasi dosis yang tepat dari dokter, memastikan kadar vitamin D dalam tubuh mencapai batas ideal tanpa risiko toksisitas.
