Salah satu beban mental yang paling sering menghantui mahasiswa kesehatan adalah munculnya Perasaan Insecure yang mendalam ketika melihat unggahan foto wisuda teman-teman dari jurusan non-medis di media sosial. Di saat teman masa SMA sudah menyandang gelar sarjana dan mulai meniti karier di kantoran, mahasiswa kesehatan biasanya masih berkutat dengan stase klinik, laporan asuhan keperawatan yang belum di-ACC, atau persiapan ujian kompetensi yang melelahkan. Fenomena Lulus Lebih Dulu dari jurusan lain seolah menjadi pengingat betapa panjang dan berliku jalan yang harus ditempuh untuk menjadi seorang tenaga medis yang profesional.
Penyebab utama dari Perasaan Insecure ini adalah perbedaan struktur kurikulum yang sangat kontras. Jurusan kesehatan, baik itu keperawatan, kebidanan, maupun farmasi, memiliki beban sistem kredit semester (SKS) yang tidak hanya terdiri dari teori di kelas, tetapi juga praktik lapangan yang memakan waktu berbulan-bulan. Durasi pendidikan yang lebih lama ini sering kali membuat mahasiswa merasa “tertinggal” secara finansial dan pencapaian hidup dibandingkan rekan sebayanya. Belum lagi tuntutan magang tanpa gaji demi jam terbang, yang sering kali memicu pertanyaan dalam diri: “Kapan giliran saya memakai toga dan mulai bekerja secara nyata?”
Namun, penting untuk menyadari bahwa Perasaan Insecure ini muncul karena kita membandingkan garis waktu yang tidak apel-ke-apel (apple-to-apple). Dunia medis menuntut kematangan mental dan keterampilan yang sangat presisi karena yang dihadapi adalah nyawa manusia, bukan sekadar angka atau kertas laporan. Waktu tambahan yang kamu habiskan di bangsal atau laboratorium adalah investasi untuk meminimalisir kesalahan medis di masa depan. Teman-temanmu mungkin Lulus Lebih Dulu, tetapi kamu sedang dipersiapkan untuk memegang tanggung jawab yang jauh lebih besar dan mulia. Setiap detik keterlambatanmu adalah proses pendewasaan yang tidak didapatkan oleh jurusan lain.
Mengatasi Perasaan Insecure ini memerlukan fokus pada progres diri sendiri daripada memantau hidup orang lain melalui layar ponsel. Gunakanlah waktu pendidikan yang lebih panjang ini untuk memperbanyak relasi dengan senior dan praktisi kesehatan di lapangan. Sadarilah bahwa saat kamu akhirnya lulus nanti, kamu tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga sertifikasi kompetensi dan pengalaman klinis yang sudah teruji. Masa depan tenaga kesehatan selalu menjanjikan karena kebutuhan akan pelayanan medis tidak pernah surut, sehingga “keterlambatan” lulusmu sebenarnya adalah persiapan untuk karier yang jauh lebih stabil dan penuh pengabdian.
