Prosedur medis seperti pemasangan infus sering kali menimbulkan kecemasan dan ketakutan hebat pada anak-anak. Tangisan dan perlawanan bukan hanya membuat anak stres, tetapi juga menyulitkan tenaga medis. Untuk mengatasi situasi ini, metode inovatif yang menggabungkan teknik psikologis dan intervensi rasa manis terbukti efektif. Penggunaan Story Telling sebagai pengalih perhatian, dikombinasikan dengan pemberian madu untuk menenangkan, menawarkan solusi yang lembut dan efektif untuk pengalaman yang lebih positif.
Story Telling atau bercerita adalah alat yang luar biasa dalam psikologi anak. Dengan mengalihkan fokus anak dari jarum dan rasa sakit ke dunia imajinatif yang menyenangkan, kecemasan dapat berkurang signifikan. Cerita dapat disesuaikan, misalnya dengan menceritakan ‘tentara super’ yang mendapatkan ‘kekuatan’ melalui selang kecil, atau ‘petualangan’ yang membutuhkan ‘peta’ berupa plester. Metode story telling ini membantu anak mengubah persepsi mereka tentang prosedur medis, dari ancaman menjadi bagian dari sebuah permainan atau cerita heroik.
Selain intervensi psikologis, pemberian zat manis seperti madu sebelum prosedur terbukti memiliki efek analgesik ringan (pengurang rasa sakit) dan menenangkan pada bayi dan anak kecil. Rasa manis mengaktifkan jalur opioid endogen di otak, yang melepaskan zat pereda nyeri alami. Kombinasi antara alih perhatian story telling dan efek menenangkan dari madu menciptakan lingkungan yang optimal. Penggunaan madu ini harus dilakukan sesuai dosis dan petunjuk medis, terutama mempertimbangkan usia anak.
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi Story Telling dan madu dapat secara signifikan menurunkan skor nyeri dan kecemasan anak selama proses infus. Keberhasilan metode ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik dan humanis dalam perawatan pediatric. Dengan menciptakan pengalaman yang tidak menakutkan, perawat dan orang tua tidak hanya mempermudah prosedur, tetapi juga membantu anak membangun asosiasi yang lebih positif terhadap fasilitas kesehatan. Ini adalah langkah besar menuju perawatan yang berpusat pada anak.
